Sego Kelor, Sepiring Tradisi Hijau dari Lumajang
Bacatrend, Lumajang — Di tengah geliat modernisasi kuliner, sebuah sajian sederhana dari Lumajang justru mencuri perhatian karena keunikannya: sego kelor. Nasi berwarna hijau lembut ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kearifan lokal yang menyatu dengan nilai gizi tinggi.
Di sebuah sudut tenang Jalan Kalimas, Rogotrunan, berdiri kafe kecil bernama Saujana Eats & Enjoy. Di sana, sego kelor disajikan dalam bentuk kerucut, dikelilingi lauk pauk seperti sambal goreng tempe teri, ayam suwir, dan perkedel kentang. Aroma harum daun kelor berpadu dengan sambal khas Lumajang, menciptakan harmoni rasa yang tak mudah dilupakan.
“Awalnya kami hanya ingin memanfaatkan tanaman kelor yang tumbuh liar di pekarangan,” ujar Siti Nurhayati, pemilik kafe. “Tapi ternyata, banyak yang tertarik karena warnanya unik dan manfaat kesehatannya luar biasa.”
Daun kelor memang dikenal sebagai miracle tree. Kandungan magnesium, kalsium, dan antioksidannya menjadikannya primadona dalam dunia pangan sehat. Di Lumajang, pemerintah daerah bahkan mendorong konsumsi sego kelor sebagai solusi malnutrisi anak-anak.
Namun, sego kelor bukan hanya soal gizi. Ia adalah cerita tentang bagaimana masyarakat menjaga tradisi, merawat alam, dan menyajikannya dalam bentuk yang bisa dinikmati siapa saja. Di setiap suapan, tersimpan jejak budaya dan harapan akan hidup yang lebih sehat.
Di tengah tren makanan instan dan cepat saji, sego kelor hadir sebagai pengingat: bahwa kadang, yang paling berharga justru tumbuh di halaman sendiri.











Tinggalkan Balasan