Bacatrend, Gresik – Di sudut pagi Gresik yang berkabut ringan, aroma rempah berpadu dengan suara riuh pasar. Di antara hiruk-pikuk itu, sebuah takir daun pisang menyimpan cerita perjuangan, kehangatan, dan identitas: Sego Roomo.

Makanan ini bukan sekadar sarapan khas. Ia adalah jejak sejarah, yang dipercaya lahir dari kegigihan seorang perempuan tua di Desa Roomo, Kecamatan Manyar. Konon, saat dilanda kesulitan ekonomi, ia bertemu seorang wali yang menyarankan agar “menjual desanya.” Makna itu bertransformasi menjadi sebuah warisan kuliner yang kini mewakili kisah masyarakat pesisir.

Tekstur dan Rasa yang Menyentuh Ingatan Kolektif
Sego Roomo disajikan dengan bubur oranye—campuran tepung beras dan udang yang lembut—diletakkan di atas nasi atau lontong, lalu dihiasi dengan sayuran rebus, poyah (kelapa sangrai), kerupuk udang, dan sambal khas Gresik yang pedasnya tajam namun akrab. Sendok daun pisang menjadi pelengkap tradisional yang menyatukan rasa dan suasana.

Setiap suapan membawa harmoni antara gurih, asin, dan pedas, disertai tekstur yang lumer di mulut. “Rasanya ngangenin. Kaya dibawa pulang ke masa kecil,” ujar Bu Atik, penjual Sego Roomo di Pasar Gresik yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun.









Kuliner yang Terancam Sepi
Meski begitu, keberadaannya makin sulit ditemukan. Banyak penjual yang mulai berhenti karena usia, sementara generasi muda lebih mengenal makanan kekinian. Ironisnya, makanan yang dulu lahir dari kegigihan kini perlahan memudar, padahal ia menyimpan potensi sebagai ikon kuliner Gresik.

“Saya ingin anak-anak muda tahu, ini bukan cuma makanan, tapi bagian dari identitas,” ujar Pak Jamal, pemerhati budaya lokal. Ia berharap Sego Roomo bisa masuk daftar warisan budaya kuliner Nusantara.

Sego Roomo bukanlah makanan yang bersaing dalam tampilan Instagram. Tapi dalam satu takir sederhana, ia menampung kisah tentang daya juang, cinta pada kampung halaman, dan hubungan manusia dengan rasa yang dibentuk oleh waktu.

Di kota yang tumbuh dalam industri dan pergerakan ekonomi, Sego Roomo hadir sebagai pengingat bahwa rasa yang jujur tak pernah kehilangan tempatnya.