Sunardi Mengaku Tak Pernah Paksa Sang Buah Hati Mengemis
Bacatrend, Surabaya – Perceraian tak hanya memisahkan dua insan yang pernah saling mencintai. Bagi sebagian orang, perceraian juga menciptakan jarak yang menyakitkan antara seorang ayah dan anaknya. Itulah yang dirasakan Sunardi.
Sejak rumah tangganya runtuh pada 2024, hidup Sunardi berubah drastis. Putusan perceraian membuat hak asuh dua buah hatinya berada di tangan sang mantan istri. Sejak saat itu, kerinduan menjadi teman yang nyaris tak pernah meninggalkannya.
Di balik rutinitasnya, ada kerinduan yang terus menumpuk. Kerinduan untuk mendengar tawa putrinya, menggenggam tangan mungilnya, atau sekadar melihatnya bermain di dekatnya. Kesempatan bertemu yang terbatas membuat setiap detik kebersamaan terasa begitu berharga.
Saat kesempatan itu datang, Sunardi memilih mengajak putri bungsunya menemaninya beraktivitas. Bukan untuk bekerja, apalagi mencari belas kasihan orang lain. Menurut pengakuannya, ia hanya ingin menikmati waktu bersama anak yang begitu lama tak selalu bisa berada di sisinya.
Namun kebersamaan itu justru menjadi awal dari badai yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah video yang memperlihatkan putrinya berada di kawasan Pasar Keputran beredar luas di media sosial. Dalam waktu singkat, berbagai tudingan bermunculan. Sunardi disebut menelantarkan anaknya, bahkan dituduh menjadikan darah dagingnya sebagai alat mengemis dan mengamen.
Narasi itu menyebar begitu cepat. Ruang media sosial seolah berubah menjadi ruang sidang, sementara Sunardi telah lebih dulu dijatuhi vonis oleh sebagian warganet.
Merasa namanya disudutkan, Sunardi akhirnya menyampaikan versinya. Dengan tegas ia membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Ia mengaku tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah ketika bersama putrinya, mulai dari memberi makan, memenuhi kebutuhan, hingga memberikan perhatian sebagaimana mestinya.
“Saya memberikan A pendidikan yang baik, memberi nafkah yang baik, memberi makan selayaknya seorang ayah kepada anak. Apa yang diceritakan di luar itu semua tidak benar. Itu semua fitnah,” ujar Sunardi.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengajarkan, apalagi memaksa putrinya mengamen ataupun mengemis.
“Saya enggak pernah menyuruh anak saya ngamen, mengemis,” tegasnya.
Pembelaan kemudian datang dari keluarga besarnya.
Hariyanto, kakak kandung Sunardi, mengatakan bahwa keponakannya selama ini tumbuh dalam perhatian keluarga. Menurutnya, seluruh kebutuhan anak tersebut selalu dipenuhi ketika berada bersama ayahnya.
Ia memastikan, tidak pernah ada tindakan menelantarkan ataupun mengajak anak itu meminta-minta di jalan.
“Kalau A sama ayahnya ya baik-baik saja. Makan juga dicukupi. Tidak pernah diajak mengemis, apalagi ditelantarkan,” katanya.
Hariyanto menjelaskan, keberadaan A di Pasar Keputran bukan untuk bekerja, melainkan bermain bersama saudara-saudaranya sambil menemani sang tante berjualan.
Menurutnya, keluarga besar juga ikut mengambil peran dalam merawat anak tersebut.
“Semua saudara ikut membantu. Kasih makan, kasih jajan. Tidak pernah ada yang menelantarkan,” ujarnya.
Kesaksian senada disampaikan Iramawati, kakak Sunardi lainnya. Ia menilai video yang viral telah memunculkan persepsi yang tidak utuh.
Menurutnya, A hanyalah seorang anak kecil yang sedang bermain ketika menemani tantenya berjualan cabai di Pasar Keputran.
“Semua tuduhan itu tidak benar. Tidak pernah ditelantarkan, apalagi dipakai untuk meminta-minta. Di pasar itu dia cuma ikut tantenya jualan sambil bermain,” ucap Iramawati.
Bagi keluarga Sunardi, perceraian telah meninggalkan luka yang tidak ringan. Kini, luka itu bertambah ketika konflik keluarga berkembang menjadi perdebatan publik. Di tengah derasnya opini yang beredar, mereka berharap masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang viral.
Sebab, di balik kisruh yang memenuhi linimasa media sosial, ada seorang ayah yang mengaku hanya berusaha memeluk kembali kebahagiaan kecilnya—meski hanya sesaat.












Tinggalkan Balasan