Tempuh 40 KM Demi BBM, Afifah: Upah Rp50 Ribu, Tapi Harga Eceran Bensin Rp25 Ribu
Bacatrend, Jember – Afifah, seorang buruh perempuan dari Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, Jember, hanya bisa mengelus dada. Bersama suami dan anaknya, ia harus menempuh jarak hingga 40 kilometer demi mendapatkan bahan bakar. Tak hanya satu SPBU yang disinggahi, tapi tiga sekaligus—Kalibaru, Krikilan, hingga Curahketangi di wilayah Banyuwangi.
“Beli eceran sekarang Rp25 ribu per liter. Sedangkan upah kami cuma Rp50 ribu sehari. Jelas itu memberatkan,” keluhnya. Ia bahkan terpaksa membawa jeriken besar dan memilih Pertamax karena Pertalite selalu habis lebih dulu. Dalam situasi ini, harga bukan lagi pilihan, tapi paksaan.
Akhir Juli 2025 menjadi mimpi buruk bagi ribuan warga Jember. Kelangkaan BBM bukan hanya membuat antrean mengular di SPBU, tapi juga memaksa mereka mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatan. Jalan-jalan lengang, kendaraan jarang melintas, dan kehidupan seolah melambat.
Di pusat kota Jember, warga masih bisa berharap pada SPBU meski antrean panjang. Tapi di pelosok timur yang berbatasan dengan Banyuwangi, perjuangan jauh lebih berat. Mereka harus melewati jalan-jalan sempit, licin, dan terjal di tengah kebun kopi dan perkebunan karet.
SPBU Krikilan, Glenmore, menjadi salah satu titik paling padat. Warga dari Garahan, Mayang, hingga Sumberkalong datang sejak pagi, membawa motor, jeriken, bahkan dua kendaraan sekaligus untuk mengisi bahan bakar. Jalur utama Gumitir yang biasa mereka lalui telah ditutup sejak 24 Juli karena perbaikan jalan, menyisakan jalur alternatif yang jauh memutar.
Siti Azizah, warga Desa Sumberwaru, Kecamatan Kalisat, mengaku harus berangkat sebelum subuh demi antre di SPBU. “Sampai sore baru dapat 10 liter. Itu pun cuma cukup dua hari,” katanya. Ia pun mengeluhkan lonjakan harga eceran BBM yang tak lagi ramah untuk keluarga buruh sepertinya.
Beberapa warga bahkan memilih jalur setapak yang membelah kebun kopi di Garahan, menembus ke Desa Mrawan dan Kalibaru. Meskipun berisiko, jalur itu dianggap satu-satunya harapan.
Kondisi ini menyebabkan lonjakan antrean di beberapa SPBU di Banyuwangi seperti Kalibaru, Krikilan, Curahketangi, Tegalyasan, dan Kembiritan. Titik-titik ini berubah menjadi pusat “perburuan BBM”, di mana warga hanya berharap bisa membawa pulang cukup bahan bakar untuk bekerja esok hari.
Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus menyatakan sudah mengambil langkah mitigasi. Area Manager Communication, Relations & CSR, Ahad Rahedi mengatakan distribusi dialihkan melalui rute Banyuwangi – Situbondo – Arak-Arak – Bondowoso – Jember setelah jalur Gumitir ditutup.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Satlantas dan Polres agar kendaraan tangki BBM dan LPG diberi prioritas. Waktu tempuh kini jadi 11 jam dari sebelumnya hanya 4 jam,” jelasnya.
Sebanyak 79 mobil tangki bantuan telah dikerahkan dari Banyuwangi, Surabaya, dan Malang, dengan kapasitas maksimal 24 kiloliter. Bahkan, distribusi tambahan juga disiapkan dari Tuban dan Madiun untuk mempercepat normalisasi.
Namun, bagi warga seperti Afifah, janji normalisasi hanyalah angin lalu jika BBM tetap langka dan harga terus melambung. Di tengah keterbatasan dan jalan penuh risiko, mereka tetap bertahan—bukan untuk mewah, tapi sekadar agar dapur tetap mengepul.











Tinggalkan Balasan