Tertidur dengan Hujan, Terbangun dengan Banjir: Warga Jombang Berjuang di Tengah Genangan
Bacatrend, Jombang – Malam yang panjang itu seolah tak berujung. Langit yang awalnya gelap pekat akhirnya mencurahkan amarahnya dalam bentuk hujan tanpa henti.
Derasnya air menghantam bumi, mengguyur rumah-rumah yang tak berdaya, memaksa sungai-sungai meluapkan isi perutnya, menjadikan jalanan desa sebagai anak sungai baru yang mengalir deras tanpa kendali.
Desa Kademangan di Kecamatan Mojoagung menjadi salah satu yang paling menderita.
Air, dingin dan tak terjamah, naik perlahan hingga mencapai dada orang dewasa—150 cm dari tanah yang dulu kering, kini berubah menjadi lautan yang menelan kehidupan sementara.
Pemandangan serupa terjadi di Desa Tejo, Bakalanrayung, dan Dusun Sambigelar, di mana air menyergap perkampungan seperti tamu tak diundang yang enggan pergi.
“Kami melihat air mulai naik sejak pukul enam pagi. Hujan deras sejak malam membuat beberapa sungai tidak sanggup lagi menahan debit yang tiba-tiba datang berbondong-bondong,” ujar Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, Plt Kalaksa BPBD Jombang, Senin (9/6).
Tidak ada peringatan. Tidak ada kesempatan untuk bersiap. Air datang begitu saja, merayap ke rumah-rumah, menggenangi lahan pertanian, dan menghentikan ritme kehidupan dalam sekejap.
Ketinggian air bervariasi—dari lima sentimeter yang hanya membasahi kaki hingga satu setengah meter yang menjadikan rumah-rumah seperti pulau kecil yang terputus dari dunia luar.
Beruntung, tidak ada korban jiwa. Tidak ada rumah yang hancur berantakan. Tapi kesulitan tetap nyata.
“Kami tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Jalanan yang dulu tempat lalu-lalang, sekarang seperti sungai kecil yang harus ditembus dengan kesabaran,” kata seorang warga Balongsono, Kecamatan Sumobito.
Lahan pertanian, sumber penghidupan banyak orang, ikut menjadi korban. Tanaman yang baru saja menguning di sawah kini terkubur dalam genangan air yang tidak diketahui kapan akan surut.
Data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah terdampak mulai stabil. Namun, harapan itu belum sepenuhnya bisa dirayakan.
Di Dusun Taluk Kidul, air terus merangkak naik, seolah enggan berhenti. BPBD terus berkoordinasi dengan perangkat desa untuk pemantauan lebih lanjut dan persiapan jika keadaan semakin buruk.
“Kami masih melakukan asesmen di lapangan. Sejauh ini belum ada kebutuhan logistik mendesak, tetapi kami tetap siaga untuk kemungkinan terburuk,” pungkas Wiku.
Banjir ini bukan sekadar genangan air. Ini adalah mimpi buruk yang hidup, menjadikan hujan sebagai senjata dan sungai sebagai monster yang datang tanpa aba-aba.
Dan bagi warga Jombang, malam itu—malam yang panjang dan basah—akan terus dikenang sebagai hari di mana daratan berubah menjadi lautan kecil yang menelan langkah mereka.











Tinggalkan Balasan