Bacatrend, Jakarta – Di sudut rumah tua yang teduh, aroma kayu jati yang menguar dari lemari warisan nenek seharusnya membawa nostalgia.

Tapi pagi itu, yang tercium justru bau apek dan debu halus yang mengendap di lantai. Di balik pintu lemari, lubang-lubang kecil menganga seperti luka. Serbuk kayu berserakan, tanda bahwa “nonol”—si kumbang pemakan kayu—telah berpesta diam-diam.

Bagi banyak keluarga di pedesaan Jawa, kayu bukan sekadar bahan bangunan. Ia adalah warisan, saksi bisu sejarah rumah tangga, dan simbol kehangatan. Namun, ancaman nonol mengintai dalam senyap, menggerogoti dari dalam hingga kayu rapuh tak bersisa.

“Awalnya saya kira cuma debu biasa,” ujar Pak Sumarno, pemilik rumah di lereng Gunung Lawu. “Tapi lama-lama, kursi goyang peninggalan bapak saya patah begitu saja. Ternyata sudah keropos dimakan nonol.”









Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di iklim tropis seperti Indonesia, kelembapan menjadi surga bagi serangga pemakan kayu. Nonol, atau teter, menyerang tanpa suara. Mereka melubangi kayu dari dalam, meninggalkan jejak berupa serbuk halus dan rongga kosong.

Namun, tak semua pasrah. Beberapa warga mulai melawan dengan cara-cara sederhana namun efektif:

Menjemur kayu hingga kering sempurna, karena nonol menyukai kelembapan.

Melapisi permukaan kayu dengan insektisida berbahan aktif seperti Permethrin, atau menyuntikkannya langsung ke lubang-lubang kecil.

Menggunakan pelapis berbahan minyak atau politur, yang menutup pori-pori kayu dan mengusir serangga.

Memilih kayu keras seperti jati atau yang telah diawetkan secara kimia, yang lebih tahan terhadap serangan.

Melakukan inspeksi rutin, terutama di area tersembunyi seperti bawah lemari atau loteng.

“Kayu itu seperti tubuh manusia,” kata Sunarto, pengrajin mebel dari Jepara. “Kalau tidak dirawat, dia akan sakit dan mati pelan-pelan.”

Kini, kesadaran mulai tumbuh. Di beberapa desa, warga saling berbagi tips dan mulai menyimpan kayu di tempat kering, jauh dari tanah dan genangan air. Mereka sadar, menjaga kayu berarti menjaga warisan.

Karena di balik setiap serat kayu, tersimpan cerita. Dan cerita itu layak dipertahankan—dari generasi ke generasi.