Bacatrend, Tulungagung — Aroma kesedihan menyelimuti Desa Wateskroyo, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Sabtu pagi (2/8/2025), ketika tubuh Legiyo (62) akhirnya ditemukan tim SAR gabungan setelah dua hari pencarian. Pria paruh baya itu ditemukan tak bernyawa di aliran Sungai Wateskroyo, sekitar 2,5 kilometer dari titik awal ia diduga tenggelam.

Sejak Kamis siang (31/7), keluarga korban tak lagi melihat Legiyo pulang ke rumah usai berpamitan mencari rumput di sekitar tepi sungai. Sang istri mulai cemas ketika senja menjelang, dan pencarian secara mandiri pun dilakukan. Di lokasi tempat terakhir ia terlihat, ditemukan sepeda, sabit, dan karung milik korban—bukti bisu yang mengindikasikan ia tak sempat kembali.

Malam itu juga, laporan disampaikan ke aparat desa. Warga bersama perangkat desa melakukan pencarian awal, sebelum akhirnya tim SAR gabungan turun tangan keesokan harinya.

“Pukul sepuluh pagi tadi, tim menemukan jasad korban. Lokasinya berada di hilir, sekitar 2,5 kilometer dari titik korban diperkirakan jatuh,” ungkap Koordinator Pos SAR Trenggalek, Bayu Prasetyo, S.E.









Pencarian dilakukan dengan menyisir sisi kiri dan kanan sungai sejauh lima kilometer menggunakan dua perahu karet.

Tim SAR juga melakukan manuver air di beberapa titik untuk menciptakan gelombang, dengan harapan bisa mengangkat benda dari dasar sungai.

Tak hanya dari air, upaya pencarian juga dilakukan dari darat. Masyarakat setempat aktif membantu, mengandalkan pengetahuan lokal dan harapan besar agar Legiyo ditemukan dengan selamat.

Namun takdir berkata lain. Setelah tubuh korban dievakuasi, jenazah dibawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung untuk penanganan lebih lanjut.

“Keberhasilan misi ini adalah hasil kerja sama banyak pihak—mulai dari Pos SAR Trenggalek, BPBD Tulungagung, Koramil dan Polsek Besuki, SAR MTA, perangkat desa, hingga para relawan warga,” tambah Bayu.

Kini, duka mendalam menyelimuti keluarga Legiyo. Sosok yang dikenal sederhana dan pekerja keras itu pulang dengan cara yang memilukan. Sungai Wateskroyo, yang sehari-hari jadi tempatnya mencari penghidupan, menjadi saksi bisu dari perpisahan terakhirnya.