Bacatrend, Bandung – Di balik hiruk-pikuk modernisasi kuliner, ada satu sajian yang tetap bertahan di meja makan masyarakat Sunda: ulukutek leunca. Bukan makanan mewah, bukan pula hidangan yang tampil mencolok. Tapi bagi banyak orang, terutama mereka yang tumbuh di tanah Parahyangan, ulukutek leunca adalah rasa rumah, rasa kampung halaman, dan rasa yang tak bisa digantikan.

Leunca—buah kecil berwarna hijau keunguan yang tumbuh liar di pekarangan—menjadi bahan utama. Buah ini memiliki rasa sedikit pahit, namun justru itulah daya tariknya. Dalam sajian ulukutek, leunca ditumis bersama oncom, cabai, bawang, dan kencur. Aromanya harum, rasanya pedas, gurih, dan sedikit getir—seperti hidup itu sendiri.

“Kalau makan ulukutek leunca, rasanya kayak pulang,” ujar Nila Aviana, seorang ibu rumah tangga asal Banjaran yang rutin memasak hidangan ini untuk keluarganya. “Anak-anak saya mungkin lebih suka ayam crispy, tapi kalau saya, cukup ulukutek dan nasi hangat, sudah bahagia.”

Di dapur-dapur warga Banjaran dan sekitarnya, variasi resep ulukutek leunca berkembang sesuai selera dan ketersediaan bahan. Ada yang menambahkan daun kemangi untuk aroma segar, ada pula yang menyelipkan pete atau terasi bakar agar lebih nendang. Di Cookpad, tercatat lebih dari 500 versi resep ulukutek leunca, mulai dari yang pedas membara hingga yang lembut dan bersahaja1.









Ulukutek leunca termasuk dalam kategori “masakan buhun”—kuliner warisan nenek moyang yang masih bertahan di tengah gempuran makanan instan dan globalisasi rasa. Disebutkan bahwa bahan-bahan ulukutek sangat mudah didapat: leunca, oncom, cabai rawit, gula merah, dan minyak kelapa. Tak perlu supermarket, cukup ke warung tetangga atau petik dari kebun sendiri.

Namun lebih dari sekadar resep, ulukutek leunca adalah simbol ketahanan budaya. Ia mengajarkan bahwa kelezatan tidak harus mahal, dan bahwa rasa bisa lahir dari kesederhanaan. Ia juga menjadi pengingat bahwa kuliner bukan hanya soal lidah, tapi juga soal identitas.

Di tengah tren fusion food dan plating artistik, ulukutek leunca tetap hadir di piring-piring sederhana, disajikan tanpa pretensi. Ia tidak meminta perhatian, tapi selalu dikenang.

Karena di setiap suapan ulukutek, ada cerita tentang tanah, tentang ibu, dan tentang rumah yang tak pernah benar-benar jauh.