Bacatrend, Jember – Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Jember yang semestinya membahas persoalan kesehatan masyarakat mendadak berubah menjadi panggung viral setelah salah satu anggotanya, Achmad Syahri As Siddiqi, diduga bermain game sambil merokok di tengah jalannya rapat. Video yang beredar luas di media sosial itu langsung memicu kritik publik dan menjadi bahan perbincangan warganet.

Dalam video yang tersebar, legislator muda yang akrab disapa Ra Syahri tersebut tampak duduk di ruang rapat sambil memegang telepon genggam dengan posisi horizontal. Gerakan tangannya dinilai mirip seperti seseorang yang sedang bermain game mobile. Di saat bersamaan, ia juga terlihat merokok ketika forum resmi sedang berlangsung. Ironisnya, rapat tersebut membahas isu pelayanan kesehatan dan penanganan stunting di Kabupaten Jember.

Publik pun menilai suasana rapat lebih menyerupai ruang santai ketimbang forum pengawasan kebijakan publik. Di tengah pembahasan persoalan kesehatan masyarakat, perhatian sebagian warganet justru tersita pada dugaan “misi penyelamatan desa virtual” yang dimainkan di layar ponsel anggota dewan tersebut.

Video itu memancing beragam respons di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan keseriusan wakil rakyat dalam menjalankan tugas pengawasan terhadap pemerintah daerah. Tidak sedikit pula yang menyindir bahwa ruang rapat DPRD kini tampaknya membutuhkan tambahan fasilitas “gaming corner” apabila aktivitas bermain game dianggap bagian dari agenda resmi.









Achmad Syahri As Siddiqi sendiri merupakan anggota DPRD Jember periode 2024–2029 dari Fraksi Gerindra. Ia dikenal sebagai salah satu legislator termuda di Jember karena dilantik saat masih berusia sekitar 25 tahun. Ra Syahri juga berasal dari keluarga politik. Ia merupakan putra pertama mantan anggota DPR RI Achmad Fadil Muzakki Syah atau yang dikenal sebagai Ra Fadil.

Kemunculan Ra Syahri sebelumnya sempat dipandang sebagai representasi generasi muda di parlemen daerah. Namun, viralnya video tersebut kini justru memunculkan pertanyaan baru mengenai kesiapan dan profesionalisme politisi muda dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan representasi masyarakat.

Ketua DPRD Jember Ahmad Halim mengaku prihatin atas video yang viral tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan memastikan persoalan itu akan diproses melalui mekanisme internal DPRD. Menurutnya, dugaan pelanggaran etika tersebut akan dibahas di Badan Kehormatan Dewan (BKD).

“Kalau memang terbukti melanggar tata tertib dan etika kedewanan, tentu ada mekanisme sanksi,” ujar Halim kepada wartawan.

Partai Gerindra Jember juga dikabarkan akan melakukan evaluasi internal terhadap kadernya tersebut. Sebab, sebagai anggota legislatif, perilaku di ruang rapat dinilai bukan hanya mencerminkan pribadi anggota dewan, tetapi juga citra lembaga dan partai politik.

Di sisi lain, peristiwa ini kembali menegaskan bahwa era digital telah mengubah cara publik mengawasi pejabat negara. Aktivitas sekecil apa pun di ruang rapat kini dapat direkam, diunggah, lalu menyebar dalam hitungan menit. Ruang sidang yang dulu terasa eksklusif kini praktis berubah menjadi “panggung terbuka” yang diawasi masyarakat melalui kamera ponsel.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan meningkatnya sensitivitas publik terhadap etika pejabat. Masyarakat kini tidak hanya menilai hasil kebijakan, tetapi juga sikap dan perilaku para wakil rakyat saat menjalankan tugasnya. Dalam konteks ini, tindakan merokok dan diduga bermain game saat rapat dianggap mencederai keseriusan forum resmi yang membahas kepentingan publik.

Warganet bahkan ramai membahas jenis permainan yang diduga dimainkan Ra Syahri. Sejumlah pengguna media sosial menyebut game tersebut mirip Clash of Clans, permainan strategi yang populer di perangkat seluler. Dugaan itu memunculkan gelombang satire baru di media sosial. Beberapa komentar menyindir bahwa anggota dewan mungkin sedang “menyusun strategi perang” versi digital di tengah pembahasan persoalan kesehatan warga.

Terlepas dari satire yang bermunculan, kasus ini menjadi pengingat bahwa jabatan publik selalu datang bersama ekspektasi publik. Ruang rapat DPRD bukan sekadar tempat hadir secara fisik, melainkan forum yang menuntut fokus, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap persoalan masyarakat yang sedang dibahas.

Kini, publik menunggu langkah Badan Kehormatan DPRD Jember dalam menangani polemik tersebut. Sebab, bagi masyarakat, persoalan utama bukan sekadar soal game atau rokok, melainkan soal keseriusan wakil rakyat dalam bekerja ketika kepentingan publik sedang dipertaruhkan.