Bacatrend, Jabar – Malam itu, langit Sukabumi menggantung awan kelabu. Di SPBU Ongkrak, Cibadak, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun berdiri sendirian di bawah cahaya lampu neon yang dingin. Namanya disamarkan, hanya disebut sebagai J. Ia baru saja tertinggal oleh keluarganya—tanpa sengaja, tanpa suara, tanpa pelukan perpisahan.

Mereka baru pulang dari liburan di Palabuhanratu. Perjalanan panjang menuju Jakarta membawa mereka singgah sebentar di SPBU untuk ke toilet. Sang ayah turun lebih dulu, lalu ngopi sebentar. J juga turun, mungkin untuk hal yang sama. Tapi ketika mobil kembali melaju, J tidak ada di dalamnya. Tak ada yang menyadari. Tidak sang ayah, tidak saudaranya.

Di SPBU, J menunggu. Ia mungkin berpikir ayahnya akan kembali. Ia mungkin menghitung detik, menatap jalan, berharap lampu mobil itu muncul lagi. Tapi waktu berjalan lambat. Malam semakin larut. Dan J tetap berdiri di sana, di antara pompa bensin dan suara kendaraan yang lewat.

Petugas SPBU yang melihatnya mulai curiga. Seorang anak, sendirian, tanpa orang dewasa, di malam hari. Mereka bertindak cepat, menghubungi kepolisian. Kanit Gakkum Satlantas Polres Sukabumi, Ipda Wangsit Edi Wibowo, turun tangan. “Awalnya keluarga ini bapaknya, anaknya dua berangkat dari Palabuhanratu dengan tujuan Jakarta. Setelah sampai di Cibadak, mereka mampir dulu ke SPBU Ongkrak untuk ke toilet. Bapaknya turun ke toilet, setelah dari toilet, bapaknya ngopi. Tidak tahunya anaknya turun ke toilet,” jelasnya.









J tidak menangis. Ia hanya diam. Tapi diamnya adalah jeritan yang tidak terdengar. Dua hari kemudian, setelah pencarian dan koordinasi, J akhirnya dipertemukan kembali dengan keluarganya.

Kisah ini bukan sekadar kelalaian. Ia adalah pengingat bahwa anak-anak, meski tampak kuat dan mandiri, tetap rentan. Bahwa satu momen lupa bisa menjadi malam panjang yang penuh ketakutan. Bahwa ruang publik, seperti SPBU, bukan tempat aman bagi anak sendirian.

Di media sosial, publik bereaksi. Ada yang marah, ada yang iba, ada yang bersyukur J ditemukan dalam keadaan selamat. Psikolog anak menyebut insiden seperti ini bisa meninggalkan trauma. “Anak bisa merasa tidak aman, tidak diperhatikan. Itu bisa membekas,” ujar seorang pakar dari Universitas Indonesia.

Kini, J sudah kembali ke rumah. Tapi kisahnya tetap tertinggal di SPBU Ongkrak, sebagai pelajaran bagi semua orang tua: bahwa dalam perjalanan, perhatian bukan sekadar soal arah, tapi juga soal siapa yang ada di dalam mobil.