Bacatrend, Gresik – Ketenangan warga Gresik terusik oleh keberadaan sebuah grup Facebook bernama Cinta Sedarah yang mengusung konten menyimpang dan memicu keresahan di tengah masyarakat.

Seperti bayang-bayang yang bergerak tanpa suara, grup ini muncul dan berusaha menarik anggota, hingga akhirnya kehancurannya tiba ketika pihak berwenang bergerak cepat menangkap sosok di balik layar.

Warga Gresik dilanda keresahan ketika menemukan aktivitas mencurigakan di media sosial.

Grup Cinta Sedarah, yang sempat berganti nama menjadi Suka Duka, ternyata aktif menjaring anggota dari berbagai wilayah, termasuk dari Kota Gresik sendiri.









Tidak hanya sekadar eksistensi grup, tetapi kemungkinan bahwa orang-orang terdekat mereka bisa menjadi bagian dari lingkaran kelam ini membuat kecemasan kian memuncak.

“Kami takut jika anak-anak muda atau keluarga kami masuk ke grup itu tanpa kami ketahui,” ujar seorang warga yang merasa terancam dengan keberadaan komunitas tersebut.

Keresahan warga tak berhenti sebagai keluhan semata. Polres Gresik segera bertindak dan mengerahkan tim untuk melakukan penyelidikan.

Dalam langkah cepat yang nyaris seperti adegan dalam film laga, jejak digital membawa polisi ke Denpasar, Bali, tempat tersangka bersembunyi di antara riuhnya kehidupan kota wisata.

Di bawah naungan bintang malam, IDG (44), seorang pria asal Denpasar yang berprofesi sebagai pemandu wisata, akhirnya ditangkap oleh Satreskrim Polres Gresik.

Sosok di balik grup yang meresahkan ini tak lagi bisa bersembunyi—mimpi buruk bagi masyarakat kini menemui titik terang.

“Atas dasar laporan warga, kami segera melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan pelaku,” ungkap Kapolres Gresik, AKBP Rovan Richard Mahenu dengan penuh ketegasan.

Hingga saat ini, pihak kepolisian terus mendalami motif dan cara kerja tersangka dalam menjalankan grupnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, memastikan bahwa tersangka masih dalam pemeriksaan intensif untuk mengungkap seberapa jauh jaringan yang ia kelola.

“Benar, admin grup FB yang meresahkan masyarakat telah diamankan dan sedang dalam pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Kombes Pol Abast saat dikonfirmasi.

Keberadaan grup ini seperti bayangan di dunia maya yang menyusup tanpa suara, meresahkan tanpa permisi, dan menciptakan keresahan yang mengakar di tengah masyarakat. Kini, dengan tertangkapnya sang admin, harapan akan ketenangan mulai terajut kembali.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia maya bukan lagi sekadar ruang ekspresi bebas, tetapi juga bisa menjadi tempat berkembangnya kelompok menyimpang yang dapat merusak tatanan sosial.

Masyarakat kini dihadapkan pada tantangan baru untuk lebih waspada dan memastikan bahwa lingkungan digital tetap sehat dan aman bagi keluarga serta generasi muda.

Tertangkapnya admin grup Cinta Sedarah menjadi bukti bahwa kejahatan digital tidak bisa dibiarkan tanpa tindakan.

Namun, pertanyaannya kini adalah: Apakah ini hanya satu dari banyak kelompok yang bergerak dalam kegelapan dunia maya?

Saat satu pintu tertutup, bisa jadi pintu lain telah terbuka. Maka, kewaspadaan adalah kunci, karena bayangan selalu bergerak tanpa suara… dan kita tak pernah tahu dari mana datangnya.