Bacatrend, JAKARTA – Anggota DPR RI non aktif Ahmad Sahroni menyampaikan refleksi melalui akun Instagram pribadinya, @ahmadsahroni88. Dalam video tersebut, ia menegaskan bahwa keputusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang membuatnya non aktif bukan akhir dari kiprahnya, melainkan bagian dari perjalanan hidup.

“Ini satu pembelajaran. Mudah-mudahan pengalaman yang membuat saya lebih dewasa dan lebih bijak,” ucap Sahroni.

Ia menambahkan bahwa perjuangannya membela korban kasus hukum justru harus lebih keras lagi. Menurutnya, selama dirinya non aktif, ruang pembelaan terhadap rakyat kecil yang terjerat kasus hukum seakan kosong. “Saya tidak akan berhenti untuk melakukan kebaikan kepada semua orang,” tegasnya. “Politik bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tetap berusaha baik bahkan saat orang tidak percaya.”

Unggahan tersebut langsung disambut dukungan warganet. Sejumlah komentar bernada semangat dan empati memenuhi kolom komentar, mulai dari “Semangat ndan. Ndan orang baik” hingga “Tetap konsisten membantu orang yang membutuhkan.”









Dalam video itu, Sahroni juga membuka kembali kisah masa kecilnya. Ia tumbuh di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, yang dikenal keras. Hidup sederhana membuatnya harus bekerja sejak usia sekolah dasar: menjadi tukang semir sepatu, berjualan es, hingga ojek payung.

Selepas SMA, ia tak mampu melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Jalan hidup membawanya menjadi sopir tembak, sopir truk, dan buruh pelabuhan. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kerasnya Priok justru membentuk mental kuat dan daya juang.

“Priok itu keras. Dan di situlah seorang anak tumbuh jadi kuat sejak kecil. Bukan dari keturunan kaya tapi dari perjuangan,” ungkapnya.

Sebelum masuk ke dunia politik, Sahroni sudah dikenal sebagai pengusaha sukses. Julukan crazy rich Priok melekat padanya, menandai transformasi dari anak pelabuhan menjadi figur publik yang kini berkiprah di Senayan.