Surabaya – Keingintahuan sederhana saat berselancar di media sosial membawa Feriona Ayurizta Iliyas ke panggung kompetisi internasional. Mahasiswi Program Studi Akuntansi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini berhasil menjadi finalis sekaligus meraih prestasi dalam ajang International Creative and Innovative Idea Competition (ICIIC) Malaysia 2026.

Kompetisi tersebut merupakan ajang ide inovatif tingkat internasional yang diselenggarakan oleh The Innovator Generation bekerja sama dengan MNNF Network. ICIIC diikuti peserta dari tiga kategori, yakni siswa SMA, mahasiswa, serta profesional atau dosen, dengan tujuan mendorong lahirnya ide kreatif di berbagai sektor seperti sains, teknik, kuliner, teknologi, pariwisata hingga olahraga.

Feriona mengaku keikutsertaannya berawal dari ketidaksengajaan saat libur Natal dan Tahun Baru. Ia menemukan pamflet lomba tersebut saat berselancar di Instagram.

“Saya suka iseng mencari informasi lomba, ternyata tiba-tiba lewat pamflet kompetisi ICIIC 2026 ini. Akhirnya saya screenshoot dan saya lihat detail informasi lengkapnya. Di situ saya tertarik untuk mengikutinya, jadi saya mulai menyiapkan ide, membuat bagian abstrak untuk diseleksi terlebih dahulu dan alhamdulillah lolos menjadi salah satu finalisnya,” ujar Feriona, Minggu (2/3).









Dalam kompetisi tersebut, Feriona mengusung gagasan bertajuk “Multicultural Diversity and Cultural Heritage Festival for a Quality Economy Indonesia Golden Era 2045”. Ide ini berangkat dari kekayaan budaya dan keragaman Indonesia yang dinilainya memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan mancanegara sekaligus meningkatkan devisa sektor pariwisata.

“Keragaman tersebut sangat menarik atensi saya sebagai masyarakat Indonesia. Saya berpikir bagaimana caranya supaya dari potensi budaya yang ada di Indonesia dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara, sehingga tingkat pendapatan dan devisa negara di sektor pariwisata semakin meningkat,” tuturnya.

Feriona menawarkan konsep paket wisata interaktif berbasis aplikasi yang diterapkan di kawasan destinasi. Melalui aplikasi tersebut, wisatawan dapat memilih pengalaman budaya yang diinginkan sekaligus terlibat langsung dalam aktivitas khas daerah tujuan.

“Bagian paling menarik dari karya saya adalah saya menginovasikan program pariwisata Indonesia yang telah ada sebelumnya dengan konsep yang jauh lebih menarik dan teknis yang lebih menyenangkan. Nantinya akan disediakan sebuah aplikasi khusus di wilayah wisata tersebut, dan wisatawan dapat memilih serta mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ditawarkan,” jelasnya.

Menurut dia, wisatawan tidak lagi sekadar menjadi penikmat pasif, tetapi terlibat aktif dalam pengalaman budaya lokal. “Jika biasanya wisatawan hanya mendengarkan penjelasan tour guide, di sini wisatawan dapat mencoba sendiri seperti memasak masakan khas daerah, membuat kain tenun atau batik disertai mentor,” paparnya.

Persiapan menuju kompetisi dilakukan sekitar satu setengah bulan. Ia menyiapkan ide, menyusun abstrak, membuat karya lengkap, poster, video presentasi, hingga mempersiapkan presentasi berbahasa Inggris secara daring. Presentasi dilakukan melalui Zoom Meeting di hadapan juri internasional.

“Tantangannya karena persiapannya mepet sehingga saya belum dapat mencari mentor dosen yang memiliki passion di bidang ini. Jadi hasil karya dan persiapan final lomba ini full dari persiapan diri saya sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman mengikuti kompetisi internasional pertamanya menjadi momen berharga. “Sensasinya benar-benar berbeda, tetapi sangat seru dan challenging bagi saya,” katanya.

Ia menyebut para juri dan peserta lain menilai idenya relevan untuk diterapkan di Indonesia. Konsep tersebut dinilai modern dan lebih menarik bagi wisatawan. Feriona juga menegaskan peran keluarga dan kampus dalam mendukung pencapaiannya. Keluarga memberikan semangat sekaligus membantu menyimak latihan presentasi. Dukungan akademik datang dari Kaprodi Akuntansi yang membantu proses administrasi pengajuan dana, sementara pihak universitas memberikan dukungan pendanaan meski pengajuan dilakukan mendekati tenggat waktu.

“Terima kasih saya ucapkan untuk seluruh pihak yang telah mensupport saya di kompetisi ICIIC 2026 ini. Tanpa kalian kompetisi ini tentunya tidak akan berhasil bagi saya,” ungkapnya.

Adapun tahapan kompetisi meliputi registrasi dan pengiriman abstrak pada 30 Desember 2025, pengumuman finalis 2 Januari 2026, pengumpulan video dan registrasi ulang 9 Januari, penilaian karya 10–20 Januari, serta pengumuman dan awarding pada 26 Januari 2026.

Pengalaman tersebut turut mengubah cara pandangnya terhadap kompetisi internasional.

“Mindset saya jadi berubah. Awalnya saya merasa kompetisi internasional itu cukup rumit dan butuh persiapan lama. Tetapi ternyata asal kita berani mencoba, walaupun persiapan mepet kita pasti bisa membawa hasil. Intinya harus optimis dan berani mencoba,” ujarnya.

Ke depan, Feriona berharap idenya dapat diteliti dan dikembangkan lebih lanjut agar semakin konkret untuk diterapkan di sektor pariwisata Indonesia. Ia juga mengajak mahasiswa untuk berani mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional..