Bacatrend, Surabaya  – Berjarak ribuan kilometer dari Italia, Talita Faccioli kini menjalani pengalaman baru di Kota Surabaya. Pelajar State High School Enrico Medi, Italia, itu mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya.

Di sekolah barunya, Talita mengikuti kegiatan belajar bersama siswa kelas XI-1 IPA. Namun, lebih dari sekadar mengikuti pembelajaran di ruang kelas, kehadirannya di SMATAG menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan sehari-hari dan budaya Indonesia secara langsung.

Keputusan Talita memilih Indonesia sebagai negara tujuan bukan tanpa alasan. Ia mengaku selama ini banyak mendengar cerita positif tentang Indonesia dan masyarakatnya. “I chose Indonesia because I’ve always heard good things about this country and the people who live here,” ujar Talita.

Sementara penempatannya di SMATAG Surabaya merupakan bagian dari rekomendasi keluarga. Setibanya di lingkungan sekolah, Talita pun mulai merasakan sejumlah perbedaan dengan kehidupan sekolah yang selama ini dijalaninya di Italia.









Salah satu yang paling terasa adalah suasana kelas. Di sekolah asalnya, Talita belajar dalam kelas yang relatif kecil dengan sekitar 20 siswa. Sementara di SMATAG Surabaya, satu kelas dapat diisi hampir 40 siswa.

Perbedaan tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi yang harus dijalaninya. Tak hanya soal jumlah siswa, tantangan lainnya adalah bahasa. Talita belum banyak menguasai bahasa Indonesia. Kondisi tersebut membuat komunikasi dengan guru maupun siswa yang tidak banyak menggunakan bahasa Inggris terkadang menjadi tantangan tersendiri.

Namun, kendala bahasa itu tidak membuat Talita merasa sendirian. Sejumlah siswa SMATAG justru membantu menerjemahkan percakapan dan menjelaskan berbagai hal yang belum dipahaminya. “They were always really nice, kind, and helpful,” tuturnya.

Bagi Talita, interaksi dengan siswa menjadi bagian penting dalam proses beradaptasi. Meski tidak selalu dapat memahami satu sama lain dengan sempurna, ia dan teman-temannya tetap berusaha berkomunikasi. “Even though we don’t always understand each other, we still try to communicate,” katanya.

Teman-teman di SMATAG juga mengenalkan Talita kepada siswa lainnya. Dari situlah lingkaran pertemanannya perlahan bertambah selama menjalani kehidupan di Surabaya.

Selain lingkungan sekolah, kehidupan sehari-hari di Surabaya juga memberikan pengalaman baru bagi Talita. Ia sebelumnya tinggal di sebuah kota kecil di Italia, sedangkan kini harus beradaptasi dengan kehidupan Kota Surabaya yang jauh lebih besar.

Cuaca dan suasana kota menjadi salah satu perbedaan yang ia rasakan. Bahkan, waktu matahari terbenam menjadi pengalaman sederhana yang menurutnya cukup menarik.

Saat musim panas di Italia, matahari dapat terbenam sekitar pukul 21.00. Sementara di Surabaya, matahari mulai terbenam sekitar pukul 17.00. “Something different from my home country is that everything here seems to happen a bit earlier because the sun goes down really early,” ujarnya.

Namun, pengalaman paling menarik bagi Talita bukan hanya soal perbedaan kehidupan sekolah maupun suasana kota. Ia justru semakin tertarik mengenal budaya Indonesia secara langsung.

Salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler tari tradisional di SMATAG Surabaya. Talita memilih mengikuti kegiatan tersebut karena ingin memahami budaya lokal dengan cara yang lebih dekat. Ia tidak hanya ingin melihat budaya Indonesia dari luar, tetapi juga mencoba menjadi bagian dari aktivitas budaya yang dilakukan siswa di sekolah. “I really wanted to join because I want to get to know the local culture more, including the traditional dances and music,” ungkapnya.

Mengikuti tari tradisional tentu bukan hal yang mudah bagi Talita. Gerakan tari yang berbeda dari apa yang biasa dikenalnya membuat ia masih harus banyak belajar dan menyesuaikan diri.

Meski demikian, kesulitan tersebut tidak mengurangi antusiasmenya. Bagi Talita, kegiatan seni menjadi pengalaman berharga untuk berinteraksi dengan siswa sekaligus memahami budaya Indonesia secara langsung.

Ketertarikannya terhadap budaya lokal tersebut sejalan dengan harapannya selama menjalani program pertukaran pelajar. Selama satu tahun berada di Indonesia, Talita ingin mendapatkan lebih dari sekadar pengalaman akademik.

Ia ingin mempelajari bahasa Indonesia, memahami kebiasaan masyarakat, serta mengenal kehidupan sehari-hari melalui interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Lebih dari itu, Talita berharap persahabatan yang dibangunnya selama berada di SMATAG Surabaya dapat terus terjalin meski kelak dirinya kembali ke Italia.

“I really hope to have made good friendships that last for a lifetime and to have learned the Indonesian culture and language,” katanya.

Bagi Talita, pengalaman di Surabaya nantinya bukan sekadar catatan perjalanan sebagai pelajar pertukaran. Ada cerita tentang ruang kelas yang berbeda, teman-teman baru, tantangan bahasa, kehidupan kota, hingga pengalaman mencoba tari tradisional.

Semua pengalaman tersebut akan menjadi bagian dari cerita yang ia bawa pulang ke Italia. Perjalanan Talita di SMATAG Surabaya pun masih panjang. Sebelum kembali ke negara asalnya, ia masih memiliki waktu untuk terus mengenal Indonesia.

Dari ruang kelas hingga lantai latihan tari, Surabaya perlahan menjadi ruang belajar baru bagi Talita—tempat ia tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga belajar memahami bahasa, persahabatan, dan budaya Indonesia secara langsung.