PUSPAGA Surabaya Edukasi Siswa SMPTAG Hadapi Kekerasan Siber Menuju Indonesia Emas 2045
Bacatrend, Surabaya– Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Surabaya menyambangi SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ke-41. Kegiatan ini merupakan bagian dari program PUSPAGA Goes To School yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
PUSPAGA adalah layanan yang dibentuk untuk memberikan edukasi, pendampingan, dan advokasi bagi keluarga, anak, dan remaja. Tujuannya adalah menyediakan layanan komprehensif guna mewujudkan kesejahteraan keluarga dan perlindungan anak di tingkat kabupaten/kota. Di Surabaya, PUSPAGA berperan sebagai garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif perlindungan anak, termasuk mempromosikan kesadaran dan memberikan informasi jalur pelaporan kasus kekerasan. Untuk penanganan kasus, PUSPAGA bekerja sama dengan Instalasi Pelayanan Terpadu Daerah (IPTD).
Linda Hartati S.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Volunteer PUSPAGA Surabaya, hadir sebagai narasumber dengan tema “Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045,Hentikan Kekerasan Sekarang!”. Materi yang disampaikan fokus pada pencegahan kekerasan siber (cyber violence), meliputi cyberbullying, sextortion, penyebaran konten pribadi tanpa izin, hingga penipuan digital yang menyasar anak-anak.
“Banyak anak dan remaja yang belum memahami bahaya jangka panjang dari perilaku mereka di internet. Kadang, satu komentar atau unggahan bisa meninggalkan luka yang membekas seumur hidup, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” jelas Linda
Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam bertindak di dunia maya dengan pesan singkat, “Pikirkan apa yang kamu lakukan dan lakukan apa yang kamu pikirkan.” Pesan ini diharapkan menjadi pengingat bagi siswa untuk selalu berhati-hati dalam setiap interaksi digital.
Linda juga menyoroti peran sentral orang tua dalam mencegah anak menjadi korban kekerasan. Menurutnya, banyak korban kekerasan berasal dari anak yang kurang mendapatkan perhatian di rumah.
“Orang tua harus menciptakan ikatan yang kuat dengan anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memastikan mereka merasa aman untuk bercerita. Anak yang merasa didengar akan lebih terlindungi dari risiko kekerasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk mendampingi anak hingga usia 18 tahun. “Ketika mendekati dewasa, saraf-saraf otaknya sudah berkesinambungan dan sudah tahu sebab akibat,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, PUSPAGA Surabaya dan SMPTAG Surabaya berharap dapat menciptakan generasi muda yang bijak, berempati, dan mampu memanfaatkan teknologi secara positif demi mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.










Tinggalkan Balasan